TT Ads

Penyakit tanah atau Antraks adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh Bacillus anthracis yang bisa menyerang hampir semua hewan dan penyakit ini bersifat zoonosis dan menyebar secara luas di dunia.Di Indonesia sendiri kemunculannya sesuai waktu dan tempat, di mana penyakit ini hanya terjadi pada daerah-daerah tertentu dan pada saat-saat tertentu, misalnya di awal musim hujan.

Gejala atau tanda terjangkitnya penyakit antraks adalah adanya kematian mendadak dan pendarahan di lubang-lubang kumlah (lubang hidung, lubang anus, pori pori kulit); ternak mengalami kesulitan bernapas, demam tinggi, gemetar, berjalan sempoyongan, kondisi lemah, ambruk dan kematian secara cepat; pada kuda gejalanya biasanya kronis dan menyebabkan pembengkakan pada tenggorokan. Penyakit ini dapat menjadi ganas pada domba dan kambing, tetapi kurang ganas pada kuda atau unggas. Keganasannya sendiri sangat bervariasi dari yang bersifat hiperakut sampai kronis. Hiperakut ditandai dengan kematian mendadak pada domba dan kambing sedangkan pada kuda terjadi kronis. Angka morbiditas (sakit) dan mortalitas (kematian)nya rendah tergantung hewan yang diserang dan waktu serta tempat kejadiannya.

Bali merupakan daerah yang bebas antraks. Namun, tidak menutup kemungkinan antraks dapat masuk, sebab berdasarkan data penyebarannya antraks lebih banyak disebabkan karena sporanya. “Daerah Bali Selatan termasuk Nusa Penida yang daerahnya berkapur dan tanahnya bersifat basa, cocok untuk perkembangan spora anthraks” ujar Prof. Dr. Drh. I Nengah Kerta Besung, M.Si. selaku dosen Bakteriologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Menurut drh Besung mengenai kesiapan teknisi di Bali untuk mengantisipasi masuknya penyakit ini, “Saya pikir dokter hewan di dinas serta Balai Besar Veteriner Denpasar siap terhadap penanganan kasus anthraks di Bali karena wilayah kerja BBVet Denpasar melingkupi Bali, NTB, dan NTT yang ada kasus anthraksnya.”

Tindakan pencegahan dapat dilakukan, yaitu dengan melakukan pengawasan lalu lintas hewan yang masuk ke Bali atau yang melintasi daerah Bali harus terbebas dari antraks. Selain itu, produk ternak seperti makanan, topi, ikat pinggang berbahan kulit serta pakaian dan produk hewan lainnya harus bebas dari penyakit antraks. Seperti yang dilakukan selama ini, di mana sapi atau daging sapi dari daerah NTT yang merupakan daerah yang belum bebas anthrax, jika dikirim ke Jakarta tidak boleh melintasi daerah Bali. Dalam hal ini masyarakat dan petugas karantina sangat berperan dalam menangkal perluasan penyakit antraks ke Bali.

Penanganan terhadap penyakit antraks sebenarnya tidak memerlukan perhatian khusus, penyakit ini dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik dan dicegah dengan vaksinasi. Isolasi diperlukan pada daerah yang terdapat kasus antraks. Namun, yang menjadi kesulitan adalah pengendalian sporanya sehingga penanganan penyakit pada hewan yang dicurigai antraks ditunjukkan dengan terbentuknya spora. Hewan yang terjangkit antraks tidak boleh dipotong atau dilakukan bedah bangkai karena hal ini dapat memacu terbentuknya spora.

TT Ads

Please Login to Comment.