TT Ads

       Industri peternakan di Indonesia sekarang berada dalam tahap pengembangan yang relatif signifikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sistem digitalisasi dalam masalah tersebut. Seperti TAKESI dan Ternaknesia yang merupakan dua aplikasi peternakan berbasis digital yang sudah banyak dikenal masyarakat. Mereka memiliki fungsi yang sangat membantu dalam hal peternakan, seperti pada Ternaknesia yang memliki fitur investasi yang memudahkan investor untuk mendanai para peternak dengan timbal balik dengan cara melaporkan hasil investasinya pada investor, fitur qurban dimana kita dapat membagikan secara online kemudian melaporkan dan mencari peternak mana yang menjual qurban di daerah tersebut, fitur mart yang menjadi pasarnya para peternak untuk menjual produk hasil ternak, dan fitur aqiqah untuk menghubungkan peternak atau pengusaha aqiqah sehingga memungkinkan untuk dipesan secara online. Berbeda fungsi dengan yang dimiliki Ternaknesia, TAKESI lebih berpacu pada ilmu-ilmu penyakit pada sapi, cara manajemen, juga beberapa kontak ahli untuk mempermudah pengguna mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan ternaknya.

           Digitalisasi tentu saja menjadi akses kemudahan bagi peternak yang mampu membantu dalam segi manajemen, investasi, permodalan, dan lainnya. Akan tetapi, banyaknya manfaat dari sistem ini tidak menjamin semua peternak mampu menggunakannya secara baik. Dengan kata lain, hanya beberapa orang yang bisa memanfaatkannya. Seperti kata pepatah ‘the right man on the right job’, apabila digitalisasi digunakan secara benar dan bukan disalahgunakan maka akan sangat membantu peternak tanpa batasan jarak dan waktu. “Jual beli ternak secara online memang  dapat menjadi penyebar penyakit apabila transaksinya tidak saling terbuka, ibarat membeli kucing dalam karung. Seperti kalau kita membeli baju secara online, bisa jadi aslinya tidak seindah iklannya.” tutur Sofyan, seorang dokter hewan praktisi sekaligus staff ahli dalam TAKESI, Senin (27/05). Diperlukan detail kondisi ternak yang akan diperjual belikan. Seseorang yang juga pernah menjadi pengajar Reproduksi Hewan di SMK ini mengungkapkan bahwa jaminan keamanan dan kenyamanan dalam transport ternak belum mampu untuk mencapai angka 100%, karena bisa saja mendapat kendala pada saat di lapangan meskipun dengan adanya pihak karantina yang berwenang mengatur lalu lintasnya.

       Lain hal dengan Dzikrul Ihsan, staff Product Development and Marketing di Ternaknesia. Dia mengungkapkan bahwa semua produk yang dijual atau dibisniskan melalui digitalisasi harusnya sudah memenuhi standar yang konvensional, jadi jangan sampai karena mementingkan dunia digital tapi melupakan basis dari peternak itu sendiri. “kalau begini kan artinya antar peternak, kalau peternak sendiri ada budaya yang perlu diperhatikan juga. Misalnya, budaya bayar belakangan dan tidak percaya satu sama lain. Saya rasa masih belum ada sistem digital yang terlalu membantu dalam masalah ini.” ungkapnya, Kamis (16/05). Ia juga menjelaskan bahwa Ternaknesia tengah mengembangkan  sistem yang memungkinkan peternak seluruh Indonesia saling mengetahui kegiatan maupun apa saja yang dijual. Untuk meminimalisir penipuan yang sering kali terjadi dalam proses jual beli online, ia akan menjamin uangnya hingga pesanan sampai ditangan pembeli dengan aman.

         Tak dapat kita pungkiri, ini tidak lepas dari bagaimana peternak tersebut mampu menggunakan aplikasi online peternakan dalam meningkatkan penjual belian. Seperti yang kita ketahui, banyak peternak kecil di pedesaan belum mampu menggunakannya, tapi mau tidak mau, mereka secara perlahan dituntut mampu untuk mengikuti kemajuan. Sistem ini seharusnya mampu berdampak sangat baik, tapi belum bisa menyentuh secara keseluruhan. Karena di beberapa pedesaan tentu mengalami kendala berupa jangkauan infrastruktur seperti listrik, internet, dll. Kelengkapan data seperti jumlah ternak dan kebijakan import di Indonesia yang belum sempurna juga menjadi alasan kurangnya digitalisasi. Apabila segala permasalahan yang ada  diperbaiki, maka dampak buruk bisa diminimalisir bahkan dihilangkan sehingga menguntungkan peternak. Sebagai jalan awal mereka perlu petugas atau kader sebagai pemandu kelompok-kelompok ternak untuk pemanfaatan beberapa aplikasi yang ada, juga memberikan edukasi terhadap pemikiran peternak yang merasa baik-baik saja asalkan mendapat pembeli padahal belum tahu apakah akan untung atau bahkan malah merugi.

        Sistem digitalisasi juga tidak dapat lepas dari peran dokter hewan sebagai medis veteriner, terutama dalam penanganan kasus di lapangan. Hal yang sangat penting untuk dikembangkan adalah masalah record seperti asal ternak dan riwayat penyakit selama hidupnya guna meringankan dokter hewan yang bertugas. Menyangkut undang-undang tentang peternakan dan undang-undang yang terkait di Indonesia, Sofyan mengatakan apabila dalam Takesi tidak ada aturan yang dilanggar. Sedangkan Dzikrul mengakui bahwa pihaknya belum pernah mengkaji lebih dalam untuk masalah ini, “kita memang mainnya di koar-koar biasa saja. Kita mendigitalisasinya tidak mengubah sistem bisnisnya, tapi membuatnya digital dan terekam lebih baik. Justru mungkin membantu pengawasan undang-undang yang diterapkan di peternakan itu sendiri.” harapnya. (bisik.niskala)

TT Ads

Please Login to Comment.